[Matahari Milikku] #8. Bintang Jatuh
Cerita sebelumnya: [Matahari Milikku] #7. Dua Sisi
Lima belas menit berlalu, ruang kelas yang tadinya
hanya diisi aku seorang, sudah dimasuki beberapa teman sekelasku lainnya. Ya,
yang pertama kali datang aku. Pagi ini matahari absen terlalu awal, sehingga
belum jam enam, sinarnya sudah mentereng memasuki jendela dan ventilasi kelas.
Sudah lima-enam orang yang datang, tapi kini hanya
dua orang tersisa di kelas. Entah sisanya yang mana. Karena nggak tahu harus
ngapain jauh sebelum jam masuk ini–mau ngobrol dengan teman yang ada di kelas,
tapi bingung topiknya apa; Melody, Willy, Dimas belum datang–akhirnya aku
membolak-balik majalah IPA dari perpus. Materinya hanya beberapa yang masuk ke
otak, aku tak yakin esok atau bahkan sejam lagi nanti masih kuingat. Jadi aku
menyenderkan punggungku, hanya menatap buku itu. Merasa nggak enak nganggur,
aku menatap sekeliling. Apa aku keluar kelas saja? Keluar juga mau ke mana?
Perpustakaan? Membaca majalah IPA saja gagal, kalau novel sedang malas. Ke
taman sekolah? Ngapain? Membantu membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan?
Aku berhenti melamun ketika pandanganku mendarat di
ambang pintu kelas. Dicky. Entah apa yang membuatnya berdiri sejenak di sana,
seperti baginya melangkah maju salah, melangkah mundur salah. Kedua tangannya dimasukkan
ke saku celana. Dan anehnya lagi, ia menatapku. Terlihat menunggu.
Menunggu untuk apa? Ia mau aku ngapain?
Aku menatapnya datar, teringat kebohongannya
kemarin. Jadi aku menegakkan badan, pura-pura membaca buku lagi. Kurasakan ia
menghela napas baru melangkah masuk kelas. Ia menghampiri bangkunya sendiri,
meletakkan tas, lalu membungkuk dengan tumpuan kedua tangan di atas meja.
Hening beberapa saat kudengar tidak ada suara yang berasal darinya, aku
menyipitkan mata dan melirik pelan-pelan.
Bagus. Ia menatapku sambil tersenyum geli. Apa itu
artinya aku kepergok melirik dia?
“Pagi,” sapanya pada seisi kelas. Kedua temanku yang
ngetem di kelas membalas sapanya. Kecuali aku.
“Hei, pagi, Nal!” sapanya yang sialnya dengan nada
mengejek.
Aku menoleh ke arah yang berlawanan, mencari-cari, pura-pura
tidak tahu darimana asal suara. Kemudian aku angkat bahu, merasa tidak
menemukan. Lalu pura-pura serius membaca buku lagi. Kudengar ia terkekeh pelan,
disusul dengan suara langkah. Tiba-tiba telingaku ditarik, membuatku meringis
kesakitan.
“Kuping lo yang berfungsi cuman sebelah ya?
Bisa-bisanya nggak denger omongan gue,” tegur Dicky dengan nada kocak.
Aku mengendikkan bahu. “Terserah gue dong.
Kuping-kuping gue,” sahutku acuh.
Dicky beranjak duduk di kursi tepat di depanku.
“Marah soal kemaren, ya?”
Aku hanya meliriknya.
“Ya ampun, Naaaal. Gue kan cuman becanda!”
“Tapi becandaan lo ada bumbu bohongnya.”
“Trus kenapa? Lo mau bilang kalau bohong itu dosa?”
“Bukan. Gue paling nggak suka dibohongin.”
“Ooooh,” katanya enteng. Lalu ia mendekatkan
wajahnya padaku, menatapku dengan tatapan “memang adik kecil mau permen rasa
apa?”.
Aku berdecak. “Bagi gue, kepercayaan itu mahal
harganya. Sekalinya bohong, gue susah buat percaya lagi. Dan, sekali bohong dan
berhasil, biasanya pelaku bakal ketagihan lalu kebiasaan bohong.”
Dicky terhenyak. Air mukanya berubah serius. “Jadi
lo... nggak percaya gue lagi?” tanyanya dengan nada tak percaya.
“Bukaaaan,” kataku sambil tersenyum lebar.
“Kebohongan kemaren kan remeh temeh aja.”
Dicky tersenyum mengejek. “Kalo lo marah besar
gara-gara kemaren, gue perlu periksa kejantanan lo.”
Aku mendelik. “Gue cewek! Kok jantan, sih??”
Dicky tertawa lepas. “Baca apa lo?”
“Majalah IPA.”
Dicky menggeser majalah sampai ke depannya. “Hm,
tentang ruang angkasa.”
“Yap. Ada orbit, planet, asteroid...”
“Benda-benda langit,” potong Dicky tanpa mengalihkan
perhatiannya.
“Bintang, bulan, matahari...,” sambungku, sambil
mengedarkan pandangan menuju jendela, pada matahari.
Kulihat Dicky terkesiap. Ia mematung, memandangku
tanpa makna. Mungkin ada arti dari tatapannya, tapi entahlah, aku tak dapat
menemukannya. Ia diam kaku. Sedetik kemudian aku merasa ada yang bergolak dalam
benaknya.
Aku memilih menjadi orang yang menghancurkan
keheningan. “Oya, Dick. Pembatas buku lo kemaren... kenapa gambarnya matahari?”
“Uhuk! Uhuk!” Dicky terbatuk-batuk, seperti keselek
ludahnya sendiri. Aku cepat-cepat meraih botol air mineral yang kubawa dan
menyodorkannya. Ia menatapku sejenak sebelum menerima botol. Lalu air mineral
itu ludes setengah masuk ke dalam kerongkongannya.
“Apa lo bilang tadi?” katanya, ekspresinya seperti
bangun dari mimpi.
“Pembatas buku lo kemaren, kenapa gambarnya
matahari?”
Butuh lima detik penuh baru Dicky menjawab. “Itu
pembatas buku udah lama kok. Sejak zaman...,” Dicky mengingat-ingat. “Gue kelas
satu SMP, kalo nggak salah.”
“Lo lukis sendiri?”
“Yap.”
“Kenapa gambarnya matahari?” ulangku.
Dicky tersenyum tipis sebelum menjawab. “Menurut
gue, matahari paling gampang digambar daripada benda langit lainnya. Dan
warnanya juga semarak. Kalau matahari terbit warnanya ada oranye-nya, lebih
cerah, bekas malam masih ada gitu. Keren,” Dicky mendecak kagum. “Sementara
matahari terbenam juga bagus. Banyak variasi warnanya. Semburat jingganya...”
“Punya lo itu matahari terbit atau matahari
terbenam?” potongku cepat.
Dicky tersentak. Lalu kelihatan salah tingkah.
“Eeeeng... itu matahari siang. Lagi terik-teriknya.”
Bahuku melorot. Ada yang melintas begitu saja dalam
benakku. Sepertinya obrolan tentang matahari itu menyentuh sisi sensitifku.
Sekarang, hening menyerang lagi. Sepertinya kami sibuk dengan pikiran
masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran Dicky. Kalau yang ada
dipikiranku... ada niat untuk mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Seputar
matahari.
Memangnya aku berani? Apa Dicky pantas ditanyai soal
“suka matahari terbit atau terbenam”? Ini sebenarnya salah alamat. Tapi aku
merasa yakin untuk menanyainya. Sebagai narasumber sampingan, mungkin. Meski
sama sekali tidak ada sangkut pautnya, kurasa tak ada salahnya bertanya.
Mulutku sudah terbuka, tapi...
“Pagi, Kinal, Dicky!” sapa Ayana seraya melewati
kami. Ia sendiri melangkah menuju bangkunya yang ada di belakang bangku Dimas
dan Willy.
“Pagi,” jawabku. Sementara tidak ada jawaban dari
Dicky.
“Halo, halo!!!” sapa seseorang, suaranya membahana.
Ternyata Jeje. Kayaknya dia lagi senang. Begitu masuk kelas, ia menebar senyum
sapa ke mana-mana. Aku membalas senyumnya, kulihat Ayana dan Dicky juga begitu.
Jeje beranjak menuju kursinya yang ada di belakang kursi Dicky.
“Kinal, tumben jam segini lo udah dateng?” tanyanya
sambil melepas tas.
Aku nyengir, lalu pertanyaan itu dijawab Ayana.
“Kinal kapok-lah, dihukum bersihin kamar mandi.”
“Nah, tuh lo tahu,” kataku, setengah jengkel setengah
kepengin ngakak.
“Takut terlambat lagi atau...” Alis Jeje naik turun,
menatapku dan Dicky bergantian. “Mau berduaan ama Dicky? Kan Dicky datengnya
selalu jam segini.”
“Hah??” Aku spontan bertanya, sementara Ayana
tertawa. Dicky mesam-mesem. “Berduaan darimana? Masuk kelas tadi, lo lihat
nggak gue cuman berdua di sini?”
“Gue baru datang kok, Je,” sahut Ayana tanpa ada
yang bertanya.
“Nah itu...” Kalimatku terputus begitu saja ketika
aku menatap sekeliling. Tiba-tiba hanya ada aku, Dicky, Ayana, dan Jeje di
kelas. Lah, yang lainnya pada ke mana??
“Ehem, ehem,” Jeje berdeham, kedengeran banget kalau
dibuat-buat. “Berarti sebelum Ayana dateng, kalian cuman berdua kaaaan?”
Aku sudah mengambil napas dan mulut sudah terbuka,
tapi Dicky menggagalkan kalimat bantahan yang hendak keluar dari mulutku. “Ya
kebetulan aja kali tiba-tiba berdua. Kenapa? Kalian cemburu?”
Kami bertiga sontak menatapnya aneh. Disusul tawa
kami berempat, barengan. “Ya udah deh,” Jeje mengibaskan tangannya. “Chan, ikut
gue ke TU yuk.”
“Ngapain?”
“Ambil absensi. Yuuk!!”
“Oke!”
Sepeninggal Jeje dan Ayana, suasana kelas jadi sunyi
lagi. Dan perlahan-lahan... canggung. Aku menunduk, menimbang-nimbang lagi.
Hingga akhirnya aku merasa mantap, mendongak, dan bertanya.
“Dick.”
“Nal.”
Kami saling menatap. “Lo duluan deh,” kataku.
“Lo duluan aja.”
“Udaaah, lo aja!” kataku rada tegas.
Dicky melipat bibirnya sebentar baru bicara. “Gue
boleh tanya sesuatu, Nal?”
“Tanya ya tanya aja Dick.”
“Eeeng... bukan nanya sih. Lebih tepatnya, ngomong.”
“Ya udah ngomong aja.”
“Eeengg... Gue...”
“Hellooooowww efribodih!!” sapa seseorang, suaranya
barbar memekakkan telinga. Kepala kami spontan menoleh ke arah yang sama. Dicky
melengos lalu mengumpat. Baru kali ini respon Dicky seperti ini terhadap
kedatangan Mela. Mungkin karena merasa kalimatnya dipotong.
Mela memasuki kelas berjalan berlenggak-lenggok.
Mungkin pikirannya kelasku ini acara semacam malam anugerah penghargaan dengan
penyambutan lantai berlapis karpet merah. Kalau Mela sih, mungkin bakal dapat
penghargaan sebagai mak lampir terfavorit sejagat raya.
“Halo Dicky!!!” sapanya keras-keras, suaranya
membuat telinga berdenging. “Dan halo...” Suaranya menurun drastis. Ia
melirikku, kelihatan banget kalo nggak suka. “Kinal,” tambahnya, enggan.
Aku tersenyum mengejek. “Tumben mau nyapa gue.”
Mela mendelik tapi tidak menjawab pertanyaanku.
“Assalamu’alaikum!” Seseorang berteriak dan
melangkah ke dalam kelas. Dimas dan Willy langsung ke tempat duduk mereka. Saat
melewati kami, Dimas memandang Mela dan gengnya dengan takjub.
“Eh, ada Mela. Kalian mau berantem lagi?” tanya
Dimas polos, matanya mengarah padaku.
Aku memutar bola mata, Dicky nyengir, dan Mela
mendecak dan memalingkan muka, acuh. “Ehm, kalian berdua. Langsung aja ya.
Berhubung besok libur tanggal merah dan Sabtu hari kejepit, sekolah bakal
liburin...”
“Lo tahu darimana kalo sekolah diliburin?”
Tahu-tahu, Willy nyeletuk.
Mela menggumam tidak jelas, tidak suka kalimatnya
dipotong. Atau lebih tepatnya, tidak suka diganggu. “Bokap gue. Jadi
kemungkinan besar kita ada libur tiga hari weekend
ini. Gue mau ngajak lo berdua, liburan bareng.”
Mataku terbuka lebar. Nggak salah denger nih??
“Gue??” kataku sabil menunjuk diri sendiri.
“Yap.”
“Ke mana?” timpal Dicky.
“Ke pantai.”
“Gue ama Willy boleh ikutan nggak, Mel?” tanya
Dimas.
“Dasar tukang nguping!” sahut Mela pedas. “Ya udah
deh, kalian boleh ikut.”
“Cihuy!”
“Ntar kita nginep di villa bokap gue. Trus api
unggun malemnya,” Mela mengatupkan tangannya, matanya menerawang jauh, dan dia
senyam senyum sendiri. “Bakar-bakar ikan, nyanyi-nyanyi...”
“Mendingan nggak usah nginep deh,” Tiba-tiba Dicky
memotong. Semua mata tertuju padanya sekarang. Apalagi mata Mela yang kayaknya
mau keluar dari tempatnya. “Kita keluar sehari aja. Bentar lagi kita UN, harus
banyak belajar.”
Dimas dan Willy manggut-manggut setuju. Mela
cemberut, tapi toh ia menyetujui. “Ya udah. Kasih tahu alamat kalian semua,
biar besok pagi gue jemput kalian satu persatu.”
“Gue boleh ajak Melody?”
Mela memalingkan wajah padaku. Awalnya ekspresinya
polos, tapi perlahan-lahan ada senyum melengkung di wajahnya. Menimbulkan kesan
sinis, membuatku menyipit curiga. “Boleh dong. Kalo perlu, semua temen lo
ajakin. Beby juga boleh.”
***
“Apaa?? Mela ngajak liburan bareng??”
Aku manggut-manggut sambil terus menyalin materi
yang ditulis Pak Karno di papan tulis.
“Nggak salah denger lo?”
“Enggak! Suwer! Tanya aja ama Dicky. Willy ama Dimas
pun diajak.”
“Apaaaaa??”
“Ssstt!!” Pak Karno berkata tanpa membalikkan badan
dan terus menulis di papan. Aku dan Melody sama-sama melorot di kursi
masing-masing, mengkeret.
“Tapi, Nal, nggak mungkin banget!” bisik Melody.
“Hus! Udah deh, mending dibahas entar. Kalo Pak
Karno tahu gimana?”
“Gue penasaran!!”
Aku menatap Melody dan berhenti menulis. “Kan gue
udah bilang kalo gue nggak bohong juga nggak salah denger.”
“Gue ngerasa ada yang aneh. Mela gituloh. Setiap mau
ketemu Dicky tapi pas Dicky-nya ama elo, dia kan selalu sewot. Lo sendiri yang
bilang ke gue. Itu artinya kan bagi dia... ehm, lo perusak aja. Dia jadi benci
ama lo kan? Nah, kalo dia mau liburan ama Dicky, kenapa harus ama lo??”
Aku mengerutkan kening dan mengetuk-ngetuk bolpoin
di dagu. Melody ada benarnya juga.
“Anehnya juga, kenapa dia bolehin Dimas dan Willy
ikut? Kenal juga kagak!”
“Dia bilang gue juga boleh ajak Beby, semua temen
gue juga boleh diajak.”
“Nah, aneh banget kan!!”
“Iya.”
Kami hening sejenak, sibuk dengan pikiran
masing-masing sementara decitan suara spidol Pak Karno masih terus saja
terdengar.
“Jangan-jangan...”
“Jangan-jangan apa, Mel?” tanyaku, panik.
Melody perlahan-lahan menolehkan kepala padaku,
kesannya dramatis. Lalu ia menatapku, aku bisa melihat ada tanda tanya besar dalam
matanya. “Dia ngajak lo buat... manas-manasin!”
“APA?”
“Ehem!!” Suara bariton Pak Karno menggema di ruang
kelas yang sunyi, membuatku spot jantung dan spontan menutupi wajah dengan buku
tulisku. Melody menunduk dalam-dalam pura-pura menulis, padahal matanya siaga
satu melirik Pak Karno. Guru fisika itu masih membelakangi kami, sibuk
mencoret-coret papan tulis dengan rumus-rumus yang sejujurnya bikin kepala
botak.
“Manas-manasin, maksud lo apa sih Mel?” bisikku.
Melody mendesah. “Trus tujuannya buat apa ngajakin
lo liburan bareng? Kalo ada Dicky, ngapain harus ada lo? Kan lebih puas dia
deketin Dicky tanpa lo. Trus tujuannya nyuruh lo buat ngundang banyak anak juga
apa? Gue malah berpikiran kalo makin banyak saksi, makin nelangsa nasib lo.”
Aku meringis. “Kenapa pikiran lo sejauh itu sih?”
“Habis? Gue nggak percaya gitu, ngomong ama dia aja
nggak pernah, eh ujug-ujug kok diajak liburan bareng. Gratis lagi!”
Aku manggut-manggut. “Trus gimana dong?”
“Lo iyain aja deh. Lagian ini kan cuman asumsi gue
aja.”
“Lo temenin gue dong. Kalo ujung-ujungnya gue ntar
patah hati, kan ada lo.”
Melody tertawa pelan. “Semoga aja Mela emang niat
ngajak liburan bareng, bukan buat apa-apa.”
“Amin deh.”
“Kinal, Melody? Sudah selesai dongengnya?”
Suara berat dan tatapan sedingin es itu sukses
membuat aku dan Melody membeku di tempat.
***
Aku mempersiapkan apa-apa saja yang akan dibawa ke
pantai besok. Mela mendatangiku saat jam istirahat, menanyakan siapa aja yang
aku ajak. Karena untuk memastikan jumlah, untuk memastikan jumlah kendaraan
yang dipakai. Aku memutuskan untuk mengajak Melody saja. Toh ada Willy dan
Dimas. Aku jadi kepikiran argumen Melody soal makin banyak saksi makin nelangsa
nasibku. Meski aku tak sepenuhnya percaya.
Tepat selesai membereskan barang-barang, ponselku
bergetar berkali-kali. Di getaran ketiga tak kuindahkan karena kupikir hanya
SMS masuk. Bisa dibuka nanti. Tapi ponsel itu bergetar terus, menandakan bukan
SMS masuk, tapi telepon masuk.
Aku meraih ponsel di atas meja, duduk bersila di
atas kasur, lalu tersenyum begitu membaca nama yang tertera.
“Halo.”
“Hai, Nal. Udah siap barang-barang buat besok?"
Aku mengulum senyum. “Baru aja selesai. Lo?”
“Udah juga.”
“Ada apa telepon, Dick?”
“Eeeennnggg,” Butuh dua detik penuh bagi Dicky
menjawab. “Nggak papalah. Buang-buang pulsa aja,” katanya, lalu ketawa nggak
jelas. Aku tertawa garing.
“Emangnya nggak boleh? Gue ganggu lo?”
“Enggaklah.”
H e n i n g.
“Ngomong kek Nal. Pulsa gue kebuang sia-sia dong.”
“Nah kan lo yang nelepon?”
“Gue kagak tahu apa yang kudu dibicarain.”
“Apalagi gue.”
“Bahas apa kek gitu, tentang besok kek, masa depan
kita kek.”
Perutku mencelos. Pipiku kepanasan. “Maksud lo apa
masa depan kita, hah?”
Dicky tergelak di ujung telepon. “Eh, Nal. Coba deh
lo lihat keluar jendela.”
“Hm?” Aku beringsut menghampiri pintu menuju balkon
kamarku. Membukanya, dan berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pegangan
balkon sambil menatap sekeliling. “Ada apa? Lo di depan jendela kamar gue?”
Dicky pura-pura mengeluh. “Kurang kerjaan apa jam
segini gue ke rumah lo.”
Aku rada tersinggung. Maka aku diam saja, menunduk.
“Lihat ke atas, deh.”
Dengan pelan, aku mendongak. Menatap langit.
“Kenapa?”
“Apa yang lo liat?”
“Langit.”
“Gue dah tauk kali, masa gajah?”
“Okelah. Bulan, tiga perempat. Banyak bintang.”
“Banyak bintang,” ulang Dicky.
“Ada apa dengan bintang?”
“Lo tahu posisi bintang di mana?”
“Hm...,” Aku berpikir sebentar. “Entahlah, gue nggak
tahu. Yang pasti jauh banget, sampai sinarnya cuman kelihatan sekecil itu dari
bumi.”
“Nun jauh di sana,” bisik Dicky.
“Ya. Nun jauh di sana,” kataku setuju.
“Bintang itu bentuknya kayak apa?”
Aku mengulum senyum. “Bintang itu adalah benda
langit yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Matahari kan termasuk bintang.
Kalau bulan, dia memantulkan sinar matahari, jadi dia bukan bintang. Sedangkan
bintang kerlap-kerlip di langit itu... Gue nggak tahu bentuknya kek apa.”
“Trus, apalagi itu bintang jatuh?”
“Ehm, entahlah. Gue pernah denger kalo bintang jatuh
itu artinya ia udah kehabisan energi. Makanya dia pensiun, jatuh, lalu
menghilang.”
“Menghilang,” ulangnya, berbisik.
“Tapi gue rasa...” Aku memainkan kesepuluh jari. “Nggak
ada namanya bintang jatuh.”
“Hah?”
“Apa yang disebut bintang adalah apa yang selalu ada
di atas, saat ia jatuh, dia nggak akan disebut bintang.”
“Hah?” tanyanya, seperti baru bangun tidur.
“Bintang dengan kelima lancip itu asalnya dari mana
ya?” Aku malah bertanya hal lain.
“Entahlah.”
“Menurut lo bintang yang kerlap-kerlip sekarang ini
bentuknya gimana kalo dari sini?”
“Yang pasti nggak bunder. Lebih tepatnya, nggak ada
bentuknya. Mungkin ada benarnya kalau dia bentuknya lima lancip begitu.”
H e n i n g l
a g i.
“Apa yang dapat dilihat nggak selalu seperti yang
sebenarnya,” kataku tanpa sadar.
“Ya,” jawab Dicky, suaranya serak. “Belum tentu yang
di langit itu bintang.”
“Setuju.”
“Udah jam sembilan, Nal,” katanya tanpa ditanya.
“Mending cepet tidur, besok pagi-pagi Mela bakal gedor-gedor pintu rumah lo.”
Aku tertawa kecil. “Sambil bawa sendok sayur dengan
rambut masih di rol.”
“Pake daster,” tambahnya sambil mengikik. “Lo kira
emak-emak lagi masak, apa?”
Aku membalas tawanya. “Ya udah. Tidur dulu, Dick.”
“Malem, Kinal,” katanya kalem, lalu memutus hubungan
telepon.
***
Dicky terpekur menatap layar ponselnya sendiri. Layar
itu nyaris semenit lalu sudah mati. Dan semenit lalu hubungan telepon diputus.
Dicky menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya
pelan-pelan. Kembali Dicky harus pulang pada perasaan itu. Perasaan menyesal
kembali menggerogoti waktu, pikiran, dan energinya. Sepertinya hal ini memang
sulit untuk dihindari. Atau bahkan, tidak bisa dihindari.
Sejenak Dicky kembali mendongak, menatap langit yang
cemerlang. Diingatnya kembali kalimat yang barusan didengarnya. Bintang itu
jauh. Bintang jatuh konon artinya tidak punya energi lagi untuk bersinar,
sehingga pensiun, jatuh dari langit.
Yang nun jauh di sana. Jatuh lenyap, hilang tak
bersisa.
Dengan air mata yang secara tidak hormat menitik,
Dicky kembali masuk ke dalam kamar. Mencoba menyiksa diri dengan menatap benda
yang di ujung ranjangnya, tertempel di dinding.
Jika ada orang yang rela terbang mengawang memunguti
satu persatu partikel demi partikel serbuk bintang jatuh dan mengembalikannya
seperti semula seperti potongan bongkar pasang, Dicky-lah orangnya. Hanya
demi... memperbaiki masa lalu.
Apa yang disebut bintang adalah apa yang selalu di
atas, ketika ia jatuh, dia nggak lagi disebut bintang.
“Bintang sudah jatuh,” bisik Dicky pada benda yang
tertempel di dinding, di ujung ranjang. Bingkai foto.
Komentar
Posting Komentar