[Matahari Milikku] #8. Bintang Jatuh

Cerita sebelumnya: [Matahari Milikku] #7. Dua Sisi



Lima belas menit berlalu, ruang kelas yang tadinya hanya diisi aku seorang, sudah dimasuki beberapa teman sekelasku lainnya. Ya, yang pertama kali datang aku. Pagi ini matahari absen terlalu awal, sehingga belum jam enam, sinarnya sudah mentereng memasuki jendela dan ventilasi kelas.

Sudah lima-enam orang yang datang, tapi kini hanya dua orang tersisa di kelas. Entah sisanya yang mana. Karena nggak tahu harus ngapain jauh sebelum jam masuk ini–mau ngobrol dengan teman yang ada di kelas, tapi bingung topiknya apa; Melody, Willy, Dimas belum datang–akhirnya aku membolak-balik majalah IPA dari perpus. Materinya hanya beberapa yang masuk ke otak, aku tak yakin esok atau bahkan sejam lagi nanti masih kuingat. Jadi aku menyenderkan punggungku, hanya menatap buku itu. Merasa nggak enak nganggur, aku menatap sekeliling. Apa aku keluar kelas saja? Keluar juga mau ke mana? Perpustakaan? Membaca majalah IPA saja gagal, kalau novel sedang malas. Ke taman sekolah? Ngapain? Membantu membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan?

Aku berhenti melamun ketika pandanganku mendarat di ambang pintu kelas. Dicky. Entah apa yang membuatnya berdiri sejenak di sana, seperti baginya melangkah maju salah, melangkah mundur salah. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Dan anehnya lagi, ia menatapku. Terlihat menunggu.


Menunggu untuk apa? Ia mau aku ngapain?

Aku menatapnya datar, teringat kebohongannya kemarin. Jadi aku menegakkan badan, pura-pura membaca buku lagi. Kurasakan ia menghela napas baru melangkah masuk kelas. Ia menghampiri bangkunya sendiri, meletakkan tas, lalu membungkuk dengan tumpuan kedua tangan di atas meja. Hening beberapa saat kudengar tidak ada suara yang berasal darinya, aku menyipitkan mata dan melirik pelan-pelan.

Bagus. Ia menatapku sambil tersenyum geli. Apa itu artinya aku kepergok melirik dia?

“Pagi,” sapanya pada seisi kelas. Kedua temanku yang ngetem di kelas membalas sapanya. Kecuali aku.

“Hei, pagi, Nal!” sapanya yang sialnya dengan nada mengejek.

Aku menoleh ke arah yang berlawanan, mencari-cari, pura-pura tidak tahu darimana asal suara. Kemudian aku angkat bahu, merasa tidak menemukan. Lalu pura-pura serius membaca buku lagi. Kudengar ia terkekeh pelan, disusul dengan suara langkah. Tiba-tiba telingaku ditarik, membuatku meringis kesakitan.

“Kuping lo yang berfungsi cuman sebelah ya? Bisa-bisanya nggak denger omongan gue,” tegur Dicky dengan nada kocak.

Aku mengendikkan bahu. “Terserah gue dong. Kuping-kuping gue,” sahutku acuh.

Dicky beranjak duduk di kursi tepat di depanku. “Marah soal kemaren, ya?”

Aku hanya meliriknya.

“Ya ampun, Naaaal. Gue kan cuman becanda!”

“Tapi becandaan lo ada bumbu bohongnya.”

“Trus kenapa? Lo mau bilang kalau bohong itu dosa?”

“Bukan. Gue paling nggak suka dibohongin.”

“Ooooh,” katanya enteng. Lalu ia mendekatkan wajahnya padaku, menatapku dengan tatapan “memang adik kecil mau permen rasa apa?”.

Aku berdecak. “Bagi gue, kepercayaan itu mahal harganya. Sekalinya bohong, gue susah buat percaya lagi. Dan, sekali bohong dan berhasil, biasanya pelaku bakal ketagihan lalu kebiasaan bohong.”

Dicky terhenyak. Air mukanya berubah serius. “Jadi lo... nggak percaya gue lagi?” tanyanya dengan nada tak percaya.

“Bukaaaan,” kataku sambil tersenyum lebar. “Kebohongan kemaren kan remeh temeh aja.”

Dicky tersenyum mengejek. “Kalo lo marah besar gara-gara kemaren, gue perlu periksa kejantanan lo.”

Aku mendelik. “Gue cewek! Kok jantan, sih??”

Dicky tertawa lepas. “Baca apa lo?”

“Majalah IPA.”

Dicky menggeser majalah sampai ke depannya. “Hm, tentang ruang angkasa.”

“Yap. Ada orbit, planet, asteroid...”

“Benda-benda langit,” potong Dicky tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Bintang, bulan, matahari...,” sambungku, sambil mengedarkan pandangan menuju jendela, pada matahari.

Kulihat Dicky terkesiap. Ia mematung, memandangku tanpa makna. Mungkin ada arti dari tatapannya, tapi entahlah, aku tak dapat menemukannya. Ia diam kaku. Sedetik kemudian aku merasa ada yang bergolak dalam benaknya.

Aku memilih menjadi orang yang menghancurkan keheningan. “Oya, Dick. Pembatas buku lo kemaren... kenapa gambarnya matahari?”

“Uhuk! Uhuk!” Dicky terbatuk-batuk, seperti keselek ludahnya sendiri. Aku cepat-cepat meraih botol air mineral yang kubawa dan menyodorkannya. Ia menatapku sejenak sebelum menerima botol. Lalu air mineral itu ludes setengah masuk ke dalam kerongkongannya.

“Apa lo bilang tadi?” katanya, ekspresinya seperti bangun dari mimpi.

“Pembatas buku lo kemaren, kenapa gambarnya matahari?”

Butuh lima detik penuh baru Dicky menjawab. “Itu pembatas buku udah lama kok. Sejak zaman...,” Dicky mengingat-ingat. “Gue kelas satu SMP, kalo nggak salah.”

“Lo lukis sendiri?”

“Yap.”

“Kenapa gambarnya matahari?” ulangku.

Dicky tersenyum tipis sebelum menjawab. “Menurut gue, matahari paling gampang digambar daripada benda langit lainnya. Dan warnanya juga semarak. Kalau matahari terbit warnanya ada oranye-nya, lebih cerah, bekas malam masih ada gitu. Keren,” Dicky mendecak kagum. “Sementara matahari terbenam juga bagus. Banyak variasi warnanya. Semburat jingganya...”

“Punya lo itu matahari terbit atau matahari terbenam?” potongku cepat.

Dicky tersentak. Lalu kelihatan salah tingkah. “Eeeeng... itu matahari siang. Lagi terik-teriknya.”

Bahuku melorot. Ada yang melintas begitu saja dalam benakku. Sepertinya obrolan tentang matahari itu menyentuh sisi sensitifku. Sekarang, hening menyerang lagi. Sepertinya kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang ada di pikiran Dicky. Kalau yang ada dipikiranku... ada niat untuk mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Seputar matahari.

Memangnya aku berani? Apa Dicky pantas ditanyai soal “suka matahari terbit atau terbenam”? Ini sebenarnya salah alamat. Tapi aku merasa yakin untuk menanyainya. Sebagai narasumber sampingan, mungkin. Meski sama sekali tidak ada sangkut pautnya, kurasa tak ada salahnya bertanya.

Mulutku sudah terbuka, tapi...

“Pagi, Kinal, Dicky!” sapa Ayana seraya melewati kami. Ia sendiri melangkah menuju bangkunya yang ada di belakang bangku Dimas dan Willy.

“Pagi,” jawabku. Sementara tidak ada jawaban dari Dicky.

“Halo, halo!!!” sapa seseorang, suaranya membahana. Ternyata Jeje. Kayaknya dia lagi senang. Begitu masuk kelas, ia menebar senyum sapa ke mana-mana. Aku membalas senyumnya, kulihat Ayana dan Dicky juga begitu. Jeje beranjak menuju kursinya yang ada di belakang kursi Dicky.

“Kinal, tumben jam segini lo udah dateng?” tanyanya sambil melepas tas.

Aku nyengir, lalu pertanyaan itu dijawab Ayana. “Kinal kapok-lah, dihukum bersihin kamar mandi.”

“Nah, tuh lo tahu,” kataku, setengah jengkel setengah kepengin ngakak.

“Takut terlambat lagi atau...” Alis Jeje naik turun, menatapku dan Dicky bergantian. “Mau berduaan ama Dicky? Kan Dicky datengnya selalu jam segini.”

“Hah??” Aku spontan bertanya, sementara Ayana tertawa. Dicky mesam-mesem. “Berduaan darimana? Masuk kelas tadi, lo lihat nggak gue cuman berdua di sini?”

“Gue baru datang kok, Je,” sahut Ayana tanpa ada yang bertanya.

“Nah itu...” Kalimatku terputus begitu saja ketika aku menatap sekeliling. Tiba-tiba hanya ada aku, Dicky, Ayana, dan Jeje di kelas. Lah, yang lainnya pada ke mana??

“Ehem, ehem,” Jeje berdeham, kedengeran banget kalau dibuat-buat. “Berarti sebelum Ayana dateng, kalian cuman berdua kaaaan?”

Aku sudah mengambil napas dan mulut sudah terbuka, tapi Dicky menggagalkan kalimat bantahan yang hendak keluar dari mulutku. “Ya kebetulan aja kali tiba-tiba berdua. Kenapa? Kalian cemburu?”

Kami bertiga sontak menatapnya aneh. Disusul tawa kami berempat, barengan. “Ya udah deh,” Jeje mengibaskan tangannya. “Chan, ikut gue ke TU yuk.”

“Ngapain?”

“Ambil absensi. Yuuk!!”

“Oke!”

Sepeninggal Jeje dan Ayana, suasana kelas jadi sunyi lagi. Dan perlahan-lahan... canggung. Aku menunduk, menimbang-nimbang lagi. Hingga akhirnya aku merasa mantap, mendongak, dan bertanya.

“Dick.”

“Nal.”

Kami saling menatap. “Lo duluan deh,” kataku.

“Lo duluan aja.”

“Udaaah, lo aja!” kataku rada tegas.

Dicky melipat bibirnya sebentar baru bicara. “Gue boleh tanya sesuatu, Nal?”

“Tanya ya tanya aja Dick.”

“Eeeng... bukan nanya sih. Lebih tepatnya, ngomong.”

“Ya udah ngomong aja.”

“Eeengg... Gue...”

“Hellooooowww efribodih!!” sapa seseorang, suaranya barbar memekakkan telinga. Kepala kami spontan menoleh ke arah yang sama. Dicky melengos lalu mengumpat. Baru kali ini respon Dicky seperti ini terhadap kedatangan Mela. Mungkin karena merasa kalimatnya dipotong.

Mela memasuki kelas berjalan berlenggak-lenggok. Mungkin pikirannya kelasku ini acara semacam malam anugerah penghargaan dengan penyambutan lantai berlapis karpet merah. Kalau Mela sih, mungkin bakal dapat penghargaan sebagai mak lampir terfavorit sejagat raya.

“Halo Dicky!!!” sapanya keras-keras, suaranya membuat telinga berdenging. “Dan halo...” Suaranya menurun drastis. Ia melirikku, kelihatan banget kalo nggak suka. “Kinal,” tambahnya, enggan.

Aku tersenyum mengejek. “Tumben mau nyapa gue.”

Mela mendelik tapi tidak menjawab pertanyaanku.

“Assalamu’alaikum!” Seseorang berteriak dan melangkah ke dalam kelas. Dimas dan Willy langsung ke tempat duduk mereka. Saat melewati kami, Dimas memandang Mela dan gengnya dengan takjub.

“Eh, ada Mela. Kalian mau berantem lagi?” tanya Dimas polos, matanya mengarah padaku.

Aku memutar bola mata, Dicky nyengir, dan Mela mendecak dan memalingkan muka, acuh. “Ehm, kalian berdua. Langsung aja ya. Berhubung besok libur tanggal merah dan Sabtu hari kejepit, sekolah bakal liburin...”

“Lo tahu darimana kalo sekolah diliburin?” Tahu-tahu, Willy nyeletuk.

Mela menggumam tidak jelas, tidak suka kalimatnya dipotong. Atau lebih tepatnya, tidak suka diganggu. “Bokap gue. Jadi kemungkinan besar kita ada libur tiga hari weekend ini. Gue mau ngajak lo berdua, liburan bareng.”

Mataku terbuka lebar. Nggak salah denger nih??

“Gue??” kataku sabil menunjuk diri sendiri.

“Yap.”

“Ke mana?” timpal Dicky.

“Ke pantai.”

“Gue ama Willy boleh ikutan nggak, Mel?” tanya Dimas.

“Dasar tukang nguping!” sahut Mela pedas. “Ya udah deh, kalian boleh ikut.”

“Cihuy!”

“Ntar kita nginep di villa bokap gue. Trus api unggun malemnya,” Mela mengatupkan tangannya, matanya menerawang jauh, dan dia senyam senyum sendiri. “Bakar-bakar ikan, nyanyi-nyanyi...”

“Mendingan nggak usah nginep deh,” Tiba-tiba Dicky memotong. Semua mata tertuju padanya sekarang. Apalagi mata Mela yang kayaknya mau keluar dari tempatnya. “Kita keluar sehari aja. Bentar lagi kita UN, harus banyak belajar.”

Dimas dan Willy manggut-manggut setuju. Mela cemberut, tapi toh ia menyetujui. “Ya udah. Kasih tahu alamat kalian semua, biar besok pagi gue jemput kalian satu persatu.”

“Gue boleh ajak Melody?”

Mela memalingkan wajah padaku. Awalnya ekspresinya polos, tapi perlahan-lahan ada senyum melengkung di wajahnya. Menimbulkan kesan sinis, membuatku menyipit curiga. “Boleh dong. Kalo perlu, semua temen lo ajakin. Beby juga boleh.”

***

“Apaa?? Mela ngajak liburan bareng??”

Aku manggut-manggut sambil terus menyalin materi yang ditulis Pak Karno di papan tulis.

“Nggak salah denger lo?”

“Enggak! Suwer! Tanya aja ama Dicky. Willy ama Dimas pun diajak.”

“Apaaaaa??”

“Ssstt!!” Pak Karno berkata tanpa membalikkan badan dan terus menulis di papan. Aku dan Melody sama-sama melorot di kursi masing-masing, mengkeret.

“Tapi, Nal, nggak mungkin banget!” bisik Melody.

“Hus! Udah deh, mending dibahas entar. Kalo Pak Karno tahu gimana?”

“Gue penasaran!!”

Aku menatap Melody dan berhenti menulis. “Kan gue udah bilang kalo gue nggak bohong juga nggak salah denger.”

“Gue ngerasa ada yang aneh. Mela gituloh. Setiap mau ketemu Dicky tapi pas Dicky-nya ama elo, dia kan selalu sewot. Lo sendiri yang bilang ke gue. Itu artinya kan bagi dia... ehm, lo perusak aja. Dia jadi benci ama lo kan? Nah, kalo dia mau liburan ama Dicky, kenapa harus ama lo??”

Aku mengerutkan kening dan mengetuk-ngetuk bolpoin di dagu. Melody ada benarnya juga.

“Anehnya juga, kenapa dia bolehin Dimas dan Willy ikut? Kenal juga kagak!”

“Dia bilang gue juga boleh ajak Beby, semua temen gue juga boleh diajak.”

“Nah, aneh banget kan!!”

“Iya.”

Kami hening sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing sementara decitan suara spidol Pak Karno masih terus saja terdengar.

“Jangan-jangan...”

“Jangan-jangan apa, Mel?” tanyaku, panik.

Melody perlahan-lahan menolehkan kepala padaku, kesannya dramatis. Lalu ia menatapku, aku bisa melihat ada tanda tanya besar dalam matanya. “Dia ngajak lo buat... manas-manasin!”

“APA?”

“Ehem!!” Suara bariton Pak Karno menggema di ruang kelas yang sunyi, membuatku spot jantung dan spontan menutupi wajah dengan buku tulisku. Melody menunduk dalam-dalam pura-pura menulis, padahal matanya siaga satu melirik Pak Karno. Guru fisika itu masih membelakangi kami, sibuk mencoret-coret papan tulis dengan rumus-rumus yang sejujurnya bikin kepala botak.

“Manas-manasin, maksud lo apa sih Mel?” bisikku.

Melody mendesah. “Trus tujuannya buat apa ngajakin lo liburan bareng? Kalo ada Dicky, ngapain harus ada lo? Kan lebih puas dia deketin Dicky tanpa lo. Trus tujuannya nyuruh lo buat ngundang banyak anak juga apa? Gue malah berpikiran kalo makin banyak saksi, makin nelangsa nasib lo.”

Aku meringis. “Kenapa pikiran lo sejauh itu sih?”

“Habis? Gue nggak percaya gitu, ngomong ama dia aja nggak pernah, eh ujug-ujug kok diajak liburan bareng. Gratis lagi!”

Aku manggut-manggut. “Trus gimana dong?”

“Lo iyain aja deh. Lagian ini kan cuman asumsi gue aja.”

“Lo temenin gue dong. Kalo ujung-ujungnya gue ntar patah hati, kan ada lo.”

Melody tertawa pelan. “Semoga aja Mela emang niat ngajak liburan bareng, bukan buat apa-apa.”

“Amin deh.”

“Kinal, Melody? Sudah selesai dongengnya?”

Suara berat dan tatapan sedingin es itu sukses membuat aku dan Melody membeku di tempat.

***

Aku mempersiapkan apa-apa saja yang akan dibawa ke pantai besok. Mela mendatangiku saat jam istirahat, menanyakan siapa aja yang aku ajak. Karena untuk memastikan jumlah, untuk memastikan jumlah kendaraan yang dipakai. Aku memutuskan untuk mengajak Melody saja. Toh ada Willy dan Dimas. Aku jadi kepikiran argumen Melody soal makin banyak saksi makin nelangsa nasibku. Meski aku tak sepenuhnya percaya.

Tepat selesai membereskan barang-barang, ponselku bergetar berkali-kali. Di getaran ketiga tak kuindahkan karena kupikir hanya SMS masuk. Bisa dibuka nanti. Tapi ponsel itu bergetar terus, menandakan bukan SMS masuk, tapi telepon masuk.

Aku meraih ponsel di atas meja, duduk bersila di atas kasur, lalu tersenyum begitu membaca nama yang tertera.

“Halo.”

“Hai, Nal. Udah siap barang-barang buat besok?"

Aku mengulum senyum. “Baru aja selesai. Lo?”

“Udah juga.”

“Ada apa telepon, Dick?”

“Eeeennnggg,” Butuh dua detik penuh bagi Dicky menjawab. “Nggak papalah. Buang-buang pulsa aja,” katanya, lalu ketawa nggak jelas. Aku tertawa garing.

“Emangnya nggak boleh? Gue ganggu lo?”

“Enggaklah.”

H e n i n g.

“Ngomong kek Nal. Pulsa gue kebuang sia-sia dong.”

“Nah kan lo yang nelepon?”

“Gue kagak tahu apa yang kudu dibicarain.”

“Apalagi gue.”

“Bahas apa kek gitu, tentang besok kek, masa depan kita kek.”

Perutku mencelos. Pipiku kepanasan. “Maksud lo apa masa depan kita, hah?”

Dicky tergelak di ujung telepon. “Eh, Nal. Coba deh lo lihat keluar jendela.”

“Hm?” Aku beringsut menghampiri pintu menuju balkon kamarku. Membukanya, dan berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pegangan balkon sambil menatap sekeliling. “Ada apa? Lo di depan jendela kamar gue?”

Dicky pura-pura mengeluh. “Kurang kerjaan apa jam segini gue ke rumah lo.”

Aku rada tersinggung. Maka aku diam saja, menunduk.

“Lihat ke atas, deh.”

Dengan pelan, aku mendongak. Menatap langit. “Kenapa?”

“Apa yang lo liat?”

“Langit.”

“Gue dah tauk kali, masa gajah?”

“Okelah. Bulan, tiga perempat. Banyak bintang.”

“Banyak bintang,” ulang Dicky.

“Ada apa dengan bintang?”

“Lo tahu posisi bintang di mana?”

“Hm...,” Aku berpikir sebentar. “Entahlah, gue nggak tahu. Yang pasti jauh banget, sampai sinarnya cuman kelihatan sekecil itu dari bumi.”

“Nun jauh di sana,” bisik Dicky.

“Ya. Nun jauh di sana,” kataku setuju.

“Bintang itu bentuknya kayak apa?”

Aku mengulum senyum. “Bintang itu adalah benda langit yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Matahari kan termasuk bintang. Kalau bulan, dia memantulkan sinar matahari, jadi dia bukan bintang. Sedangkan bintang kerlap-kerlip di langit itu... Gue nggak tahu bentuknya kek apa.”

“Trus, apalagi itu bintang jatuh?”

“Ehm, entahlah. Gue pernah denger kalo bintang jatuh itu artinya ia udah kehabisan energi. Makanya dia pensiun, jatuh, lalu menghilang.”

“Menghilang,” ulangnya, berbisik.

“Tapi gue rasa...” Aku memainkan kesepuluh jari. “Nggak ada namanya bintang jatuh.”

“Hah?”

“Apa yang disebut bintang adalah apa yang selalu ada di atas, saat ia jatuh, dia nggak akan disebut bintang.”

“Hah?” tanyanya, seperti baru bangun tidur.

“Bintang dengan kelima lancip itu asalnya dari mana ya?” Aku malah bertanya hal lain.

“Entahlah.”

“Menurut lo bintang yang kerlap-kerlip sekarang ini bentuknya gimana kalo dari sini?”

“Yang pasti nggak bunder. Lebih tepatnya, nggak ada bentuknya. Mungkin ada benarnya kalau dia bentuknya lima lancip begitu.”

H e n i n g  l a g i.

“Apa yang dapat dilihat nggak selalu seperti yang sebenarnya,” kataku tanpa sadar.

“Ya,” jawab Dicky, suaranya serak. “Belum tentu yang di langit itu bintang.”

“Setuju.”

“Udah jam sembilan, Nal,” katanya tanpa ditanya. “Mending cepet tidur, besok pagi-pagi Mela bakal gedor-gedor pintu rumah lo.”

Aku tertawa kecil. “Sambil bawa sendok sayur dengan rambut masih di rol.”

“Pake daster,” tambahnya sambil mengikik. “Lo kira emak-emak lagi masak, apa?”

Aku membalas tawanya. “Ya udah. Tidur dulu, Dick.”

“Malem, Kinal,” katanya kalem, lalu memutus hubungan telepon.

***

Dicky terpekur menatap layar ponselnya sendiri. Layar itu nyaris semenit lalu sudah mati. Dan semenit lalu hubungan telepon diputus.

Dicky menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Kembali Dicky harus pulang pada perasaan itu. Perasaan menyesal kembali menggerogoti waktu, pikiran, dan energinya. Sepertinya hal ini memang sulit untuk dihindari. Atau bahkan, tidak bisa dihindari.

Sejenak Dicky kembali mendongak, menatap langit yang cemerlang. Diingatnya kembali kalimat yang barusan didengarnya. Bintang itu jauh. Bintang jatuh konon artinya tidak punya energi lagi untuk bersinar, sehingga pensiun, jatuh dari langit.

Yang nun jauh di sana. Jatuh lenyap, hilang tak bersisa.

Dengan air mata yang secara tidak hormat menitik, Dicky kembali masuk ke dalam kamar. Mencoba menyiksa diri dengan menatap benda yang di ujung ranjangnya, tertempel di dinding.

Jika ada orang yang rela terbang mengawang memunguti satu persatu partikel demi partikel serbuk bintang jatuh dan mengembalikannya seperti semula seperti potongan bongkar pasang, Dicky-lah orangnya. Hanya demi... memperbaiki masa lalu.

Apa yang disebut bintang adalah apa yang selalu di atas, ketika ia jatuh, dia nggak lagi disebut bintang.


“Bintang sudah jatuh,” bisik Dicky pada benda yang tertempel di dinding, di ujung ranjang. Bingkai foto.


@anggianab #CerpenKinalProject


Cerita Selanjutnya: [Matahari Milikku] #9. Aneh Binti Konyol

Komentar